Pada awal Juli 2008 saya pernah menulis mengenai kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan. Diperkirakan karena ulah spekulan bukan akibat real supply-demand. Setelah mencapai angka tertinggi sekitar $150 per barel, trennya terus turun hingga mencapai di bawah $100 per barel. Bahkan hari ini (7/10) telah tembus angka di bawah $90 per barel. Lalu kemana arahnya nanti? Akankan terus turun atau kembali naik?

Tentunya bukan jawaban yang mudah karena banyak variabel yang berpengaruh, bahkan para pakar saja tidak seragam analisisnya. Tetapi yang paling dominan menurut saya adalah (tetap!): harga minyak dunia lebih ditentukan oleh ulah spekulan ketimbang harga pasar (dan ogkos produksi) yang wajar! Adalah tidak logis jika harganya bisa berubah naik-turun hingga lebih dari $50 per barel hanya dalam tempo bulanan!

Juga penting diketahui adalah: siapa yang paling diuntungkan dengan naik-turunnya harga minyak ini? Apa kaitannya dengan kurs dan peredaran dollar Amerika (US$) serta ambruknya ekonomi Amrik akhir-akhir ini?

Jika Anda suka bermain di pasar uang (Forex) atau pasar saham (terutama index), akan paham betul mengenai hal ini. Hanya satu pihak yang bisa meraih keuntungan baik dari kenaikan harga ataupun penurunannya: SPEKULAN! Pada saat tren harga naik mereka pasang posisi buy: beli saat harga rendah, jual saat harga tinggi. Pada saat tren harga turun pasang posisi sell: jual pada saat harga tinggi, beli saat harga rendah.

Spekulan dan elite pengendali ekonomi dunia selalu menggunakan kiat yang sama. Kiat inilah yang telah membuat mereka berjaya. Tidak peduli ekonomi sedang tumbuh atau resesi, mereka harus selalu mendapat untung (paling tidak dalam posisi yang diuntungkan). Mereka tidak ambil pusing apakah tindakannya membuat mayoritas umat manusia di bumi ini hidupnya makin susah atau tereksploitasi.

Lihat apa yang terjadi di Amerika sekarang. Setelah grup perusahaan keuangan besar (Lehman Brothers, Merrill Lynch, dll.) ambruk diambang kebankrutan akibat dililit kerugian maha besar. Pemerintah Amrik (Presiden dan Senat) menyetujui penggelontoran duit negara (rakyat Amrik!) 700 milyar dolar untuk menyelamatkannya.

Yang dilakukan oleh pemegang saham pengendali dan manajemen puncak adalah menggenjot keuntungan sebesar-besarnya pada saat perusahaan berjaya. Memeras habis sisa-sisa kekayaannya manakala mendekati kebankrutan. Dan yang lebih jahat lagi adalah, membuat pernyataan bankrut dan memintah orang lain (Pemerintah dan rakyat) menanggung akibat kesalahan mereka melalui bailout hutang dan kerugian!

Mana tanggung jawab pemegang saham pengendali (mayoritas) dan manajemen puncak perusahaan-perusahaan tersebut? Apakah mereka ikut menderita kerugian atau justru cuci tangan? Rakyat Amrik (dan dunia) harus menanggung beban yang sangat berat akibat kesalahan (kesengajaan?) yang dilakukan oleh segelintir elite pengendali ekonomi dunia.

Alangkah memprihatikan! Seharusnya para spekulan dan elite tukang copet tingkat tinggi ini dihukum dan masuk penjara!! Jika perlu disita semua kekayaannya, seandainya terbukti menjadi penyebab utama.

Caranya mengetahuinya mudah saja, tidak perlu rumusan ekonomi yang nyelimet dan canggih. Tidak perlu tanya sama pakar ekonomi dan keuangan dengan rekam jejak yang aduhai atau ‘anugrah gelar’ akademik dari Universitas terkemuka, tetapi ujung-ujungnya menggunakan kepintarannya hanya untuk men-justifikasi nihilitas ‘eksploitasi ekonomi tingkat tinggi ini’.

Cukup riset yang sederhana. Cek apakah mereka (para elite pengendali ekonomi dunia) semakin kaya, tetap kaya dan semakin berkuasa dalam kondisi ekonomi dunia yang lesu darah seperti sekarang? Jika jawabannya: YA, maka merekalah penyebab utama kekacauan ekonomi Amerika dan dunia saat ini (juga yang pernah terjadi sebelumnya dan [mungkin] yang akan datang!).

Jika ada yang berpendapat bahwa globalisasi dan regim keterbukaan ekonomi akan menguntungkan Indonesia. Saya tidak sependapat, dalam kondisi sebelumnya dan saat ini, masuknya Indonesia kancah globalisasi justru akan membuat Indonesia makin tidak berdaya, bahkan bisa hancur berkeping-keping!

Bila ingin masuk ke dalam sistem perekonomian dunia yang ter-interkoneksi secara bebas satu sama lain (yaitu Globalisasi tea!) butuh banyak persyaratan yang dipenuhi terlebih dahulu agar tidak dipermainkan pusaran penuh tipu daya. Diantaranya:

  1. Pemerintah harus sangat berwibawa, disegani, dan dipercaya rakyatnya.
  2. Struktur industri/usaha (bukan ekonomi) Indonesia harus sangat kuat dimana ada integrasi alamiah yang saling menguntungkan antara perusahaan besar, menengah dan kecil dan cukup merata di seluruh pelosok negeri. Dengan demikian ekonomi Indonesia tidak hanya di dominasi oleh perusahaan besar dan ‘kepanjangan-tangannya’ saja.
  3. Golongan menengah harus bersatu (atau menjadi pemersatu), menjadi motor penggerak ekonomi serta menjadi jangkar antara kaum elite dengan golongan akar rumput. Bukan seperti sekarang terpecah-pecah dan menjadi ‘alat’ kaum elite.
  4. Secara umum rakyat (yang awam sekalipun) harus cukup paham bagaimana roda perekonomian berjalan; baik di tingkat lokal, nasional, regional dan global (tentunya secara garis besar saja, tidak perlu menjadi ahli!).
  5. Adanya mekanisme transparansi kegiatan ekonomi (dan sektor lainnya) yang bisa diakses oleh publik (tentunya dengan batasan kewenangan bertingkat sesuai dengan kapabilitas dan kewenangannya).

Menurut saya, Indonesia belum memenuhi salah satu dari lima prasyarat tersebut. Jika tidak segera bebenah, cepat atau lambat, kita [kembali] akan jadi bulan-bulanan negara lain seperti yang sudah dialami sebelumnya di masa penjajahan Belanda (VOC), Jepang, Soeharto dan para ‘pemimpin reformasi’ hingga saat ini.

Dalam konteks saat ini, globalisasi bukanlah tuntutan jaman atau demi umat manusia yang lebih sejahtera. Tetapi merupakan umpan nan seksi untuk memancing ikan gemuk yang naif masuk perangkap pemancing: elite pengendali ekonomi dunia.

Tidak percaya? Tidak apa-apa, karena memang saya berharap pendapat saya adalah salah … 😆

Tapi tolong renungkan sebuah keadaan: Jika Anda sekarang ini ada di puncak kekuasaan dan kekuasaan Anda hanya berarti jika ada beberapa milyar umat manusia yang secara sadar ataupun tidak bersedia dieksploitasi. Kira2 apa yang akan Anda lakukan untuk mempertahankan kekuasaan Anda? Apakah Anda akan memberitahu mereka tentang ‘kiat’ keberhasilan Anda atau tetap membiarkan mereka tidak tahu dan/atau tidak peduli atau bahkan membiarkan mereka ‘tersesat’ melalui berbagai macam cara dan sinyal palsu nan indah gemerlap; termasuk kesenangan duniawi atau kebanggaan status?