Pemerintah Tak Mau Didikte Amerika Soal Al-Manar

Al-Manar (menara suar dalam bahasa Indonesia) memang dikenal sebagai televisi milik Hizbullah.

JAKARTA – Departemen Komunikasi dan Informatika menegaskan, negara lain tak bisa mendikte urusan telekomunikasi dan penyiaran di Indonesia, termasuk menghentikan siaran Al-Manar, stasiun televisi milik kelompok Hizbullah. “Belum diputuskan. Tapi kami tak mungkin memutuskannya untuk kepentingan negara lain,” kata juru bicara Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Gatot S. Dewabroto, kepada Tempo di Jakarta kemarin.

Pada prinsipnya regulasi memperbolehkan penggunaan satelit oleh siapa saja. Tapi Undang-Undang Telekomunikasi melarang penggunaan yang bisa mengganggu keamanan, ketertiban, kepentingan umum, dan kesusilaan. “Sebagai regulator, kami yang berhak menindak,” ujar Gatot.

Dia menanggapi keberatan pemerintah Amerika Serikat atas kontrak sewa transponder satelit Palapa C2 Indosat oleh Al-Manar. Dengan satelit Indosat, menurut Amerika, stasiun televisi ini bisa menyiarkan propaganda Hizbullah yang sarat dengan pesan kekerasan di Asia-Pasifik. Kedutaan Besar Amerika di Indonesia telah meminta Indosat membatalkan kontrak. Amerika disebut-sebut juga melobi Jakarta agar melarang Al-Manar.

Wakil Atase Pers Kedutaan Besar Amerika di Indonesia, Stafford Ward, enggan menjelaskan soal keberatan pemerintahnya atas Al-Manar. “Besok (hari ini) akan dijelaskan secara resmi,” katanya kemarin.

Juru bicara Indosat, Adita Irawati, sependapat hanya pemerintah Indonesia yang bisa memutuskan masalah Al-Manar. Indosat akan menghentikan kerja sama dengan Al-Manar jika pemerintah memang melarang pemberian slot satelit kepada stasiun televisi yang bermarkas di Beirut, Libanon, itu. “Kami akan mengikuti keputusan regulator,” ujarnya di Jakarta kemarin. Yang jelas, kata Adita, sewa-menyewa transponder satelit oleh Al-Manar semata-mata hanya dilandasi kepentingan bisnis.

Perwakilan Al-Manar di Indonesia, Ali Assegaf, mengatakan tuntutan negara adidaya itu sama sekali tidak berdasar. “Ini murni bisnis. Tak ada urusan Amerika di sini,” katanya kepada Tempo melalui telepon selulernya kemarin.

Al-Manar telah dipancarkan dari Beirut sejak 1991. Al-Manar (menara suar dalam bahasa Indonesia) memang dikenal sebagai televisi milik Hizbullah, kelompok yang dicap teroris oleh Amerika dan Israel. Al-Manar baru beroperasi pada awal April 2008. Kontrak sewa transponder dengan Indosat berlangsung selama tiga tahun hingga April 2011. AGOENG WIJAYA| FAISAL ASSEGAF | PADJAR ISWARA
KORAN