‘Supriyadi’ Peta Mengaku Bung Karno Percaya

Menurut Andaryoko, ketika menemui Bung Karno setelah keluar dari persembunyiannya di hutan, Bung Karno pun tidak percaya.

JAKARTA – Andaryoko Wisnu Prabu, 88 tahun, pria yang mengklaim dirinya adalah Supriyadi, pemimpin pemberontakan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar yang hilang misterius sekitar 63 tahun yang lalu, mengaku memang banyak yang tak percaya padanya. Bahkan dia mengaku Bung Karno sendiri pada awalnya tak percaya.

Pengakuan itu terungkap dalam wawancara Tempo bersama beberapa wartawan lain di kediaman Andaryoko di Jalan Mahesa, Pedurungan, Semarang. Menurut Andaryoko, ketika menemui Bung Karno setelah keluar dari persembunyiannya di hutan, Bung Karno pun tidak percaya. Untuk meyakinkan, Andaryoko berkata kepada presiden pertama Indonesia itu, “Bila Pemimpin Besar Bung saja tidak percaya, saya patah arang. Serahkan saja saya ke Jepang, mereka pasti akan menghukum mati.” Bung Karno pun, kata Andaryoko, jatuh iba dan percaya.

Tak hanya orang luar, keluarga Andaryoko sendiri tak percaya, seperti diceritakan cucunya, Bahtiar Setyo Wicaksono, 33 tahun. Bahkan keluarga menganggap Andaryoko bercanda. “Eyang pertama kali cerita bahwa dia Supriyadi pada Senin Pahing tahun 2003. Keluarga tidak percaya, bahkan menganggap Eyang bergurau,” kata Bahtiar.

Namun, dia menambahkan, dari beberapa kesempatan, Andaryoko bisa meyakinkan keluarganya. Misalnya ketika Bahtiar diajak menemui bekas ajudan Bung Karno, Letnan Jenderal Marinir KKO Chaerul Fathullah. Chaerul tinggal di Kroya, Cilacap, dan kini usianya sudah 115 tahun. Saat bertemu itu, “Pak Chaerul menyapa Eyang dengan sapaan Dik Sup,” kata Bahtiar.

Bahtiar juga menceritakan pengalaman Baskara T. Wardaya (sejarawan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pengarang buku Kesaksian Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno) bertemu dengan bekas pembantu Soekarno, Sukarjo Wilarjito.

Menurut Bahtiar, ketika itu Baskara bertanya kepada Wilarjito apakah kenal dengan Andaryoko. Lalu Wilarjito berkata, “Siapa ya…, kok wajahnya tidak asing. Oh, Kang Sup, ya?”

Baskara, yang dihubungi terpisah, juga menguatkan argumennya bahwa Andaryoko adalah Supriyadi. “Supriyadi tidak mati,” ujar Direktur Pusat Studi Sejarah dan Ekonomi Politik Universitas Sanata Dharma itu.

Baskara menunjukkan beberapa bukti sejarah. Pertama, pada 6 Oktober 1945, Soekarno menyusun kabinet pertama dengan Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Bukti kedua, pada 20 Oktober 1945, Supriyadi diangkat sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat. Bukti ketiga, Soekarno tidak pernah memberi gelar pahlawan nasional kepada Supriyadi jika memang telah mati.

Polemik tentang pengakuan Andaryoko ini tidak mempengaruhi pemerintah. Menurut Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa, pemerintah menyerahkan mekanisme untuk menguji kebenaran pengakuan pria asal Semarang itu kepada pemerintah daerah setempat. SOHIRIN | PITO AGUSTIN RUDIANA | NININ DAMAYANTI | ANTON APRIANTO
KORAN

Iklan