Peneliti Yakin Andaryoko Adalah Supriyadi

“Secara pribadi saya menyimpulkan Andaryoko adalah benar-benar Supriyadi.”

YOGYAKARTA — Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Baskara T. Wardaya, yakin bahwa Andaryoko Wisnu Prabu, 88 tahun, adalah Supriyadi, pahlawan nasional yang hilang misterius.

“Secara pribadi saya menyimpulkan Andaryoko adalah benar-benar Supriyadi,” kata Baskara kepada Tempo tadi malam.

Baskara, yang telah menulis dan menerbitkan buku-buku tentang peristiwa 1965, mengatakan keyakinannya itu didasarkan pada kecocokan usia dan kronologi sejarah. Bahkan ia juga telah mengajak Andaryoko ke Blitar untuk membuktikan pengakuan lelaki yang mengaku lahir pada 22 Maret 1920 itu. Namun, sebagai sejarawan, Baskara mengaku masih mencari bukti yang tak terbantahkan.

Baskara menuturkan, setelah pemberontakan PETA pada 1945 di Blitar, Jawa Timur, Supriyadi lari dari kejaran tentara Jepang dan bersembunyi di hutan selama empat bulan. Kemudian ia lari ke Jakarta dan menemui Soekarno.

Waktu itu Bung Karno lalu menyarankan Supriyadi pergi ke Semarang dan bekerja di kantor Karesidenan Semarang. Atas saran Residen Semarang Wongsonegoro, Supriyadi mengganti namanya jadi Andaryoko. “Untuk menghindari pengejaran Jepang.”

Menanggapi pengakuan Andaryoko sebagai Supriyadi, Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengaku baru mendengarnya. “Saya baru dengar ada yang mengaku Supriyadi,” ujarnya melalui pesan pendek kepada Tempo kemarin. Menurut Hatta, pemerintah belum mendapat laporan soal Andaryoko.

Menurut juru bicara presiden Andi Mallarangeng, setiap orang boleh berpendapat dan boleh mengklaim sejarah tentang dirinya atau orang lain. Namun, pengujian kredibilitas dan kesahihan klaim tersebut mesti diserahkan kepada sejarawan. “Paling bagus adalah sejarawan yang menguji kesahihan klaim sejarah itu,” katanya kemarin.

Di masa Soeharto, ada lima orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Namun masyarakat berharap pemerintah berkewajiban memberikan penjelasan.

Menanggapi hal itu, Baskara menyesalkan hal itu karena sejarah Indonesia selama ini hanya berdasar satu versi, yaitu versi pemerintah. MARIA HASUGIAN | SOHIRIN | NININ DAMAYANTI
KORAN