Rekaman Adam Air Beredar Karena Kebocoran Data

Komputer jinjing yang berisi hasil investigasi hilang.

JAKARTA — Komite Nasional Keselamatan Transportasi menduga beredarnya rekaman percakapan pilot dan kopilot Boeing 737-400 Adam Air, yang jatuh di perairan Majene, Sulawesi, disebabkan oleh kebocoran data hasil investigasi kecelakaan pesawat. “Karena ada peristiwa- peristiwa yang menguatkannya,” kata Ketua Komite Keselamatan Tatang Kurniadi dalam jumpa pers di Jakarta kemarin.

Salah satu peristiwa itu, komputer jinjing milik staf dan investigator Komite— berisi hasil investigasi sejumlah kecelakaan pesawat— hilang pada Mei 2007 dan 22 Juli 2008. “Yang hilang memang bukan rekaman percakapan,” ujarnya, tapi itu bisa diolah dan disebar di Internet.” Kemungkinan lainnya, kebocoran bisa jadi karena server komputer Komite diutak-atik oleh seseorang.

Tatang menjelaskan, data kotak hitam Adam Air memang dibaca di laboratorium Komite Keselamatan Transportasi Amerika Serikat pada Agustus 2007. Salinannya juga dianalisis di laboratorium Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, kecil kemungkinan kebocoran terjadi di Amerika. Hukum dan penjagaan dokumen rahasia di sana sangat ketat. Begitu pula di ITB. “Salinan yang diunduh langsung dihapus,” katanya.

Adapun salinan data rekaman percakapan, kata Tatang, hanya dibuat dalam bentuk digital sebanyak tiga unit. Satu menjadi dokumentasi Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, satu lagi milik dirinya, dan sisanya dipegang Ketua Sub-Komite Investigasi Transportasi Udara Frans Wenas. “Saya jamin ini tidak bocor,” ujarnya.

Beredarnya rekaman percakapan pilot Adam Air menuai kecaman tajam karena hal itu melanggar Konvensi Chicago tentang aturan penerbangan sipil internasional. Kejadian ini menambah citra buruk dunia penerbangan Indonesia, yang sejak Juli tahun lalu tak diizinkan memasuki wilayah Uni Eropa.

Pesawat Boeing 737-400 Adam Air mengalami kecelakaan pada 1 Januari 2007. Pesawat bernomor penerbangan 574 itu jatuh di Laut Majene, Sulawesi Selatan, setelah berangkat dari Bandar Udara Juanda, Surabaya, menuju Bandara Sam Ratulangi, Manado. Sebanyak 102 awak tewas dalam kecelakaan itu.

Menurut Tatang, rekaman yang beredar di Internet sejak pekan lalu itu tidak akurat, meski ada beberapa kemiripan dengan rekaman aslinya dalam kotak hitam. Salah satu kejanggalannya, percakapan pilot dan kopilot terkesan sampai pesawat jatuh ke laut. Padahal alat perekam dalam kokpit sudah tidak berfungsi sejak Adam Air di ketinggian 9.000 kaki.

Suara rekaman juga terdengar jelas. Padahal, “Di salinan aslinya kabur,” kata Tatang. Dalam salinan asli, seruan Allahu Akbar pilot dan kopilot pun hanya terdengar empat kali, sedangkan pada versi di Internet berkali- kali.

Karena itu, Menteri Jusman berkeras rekaman yang beredar itu palsu. “Itu rekayasa,” ujarnya. Dia meminta Komite menginvestigasi beredarnya rekaman “palsu” tersebut. “Dalam seminggu akan selesai,” ujarnya. HARUN MAHBUB | KURNIASIH BUDI