Inilah sebagian rekaman pembicaraan Ayin dan Jaksa Urip pada 10 Juni 2008 pukul 21.00, selama empat menit, Artalyta alias Ayin menelepon Urip. Ia juga mengarahkan keterangan yang akan disampaikan Urip jika dimintai keterangan di pengadilan. Artalyta meminta Urip tetap konsisten dengan keterangan tentang proposal permohonan dana untuk perbengkelan.

Dari Kompas:
Ayin (A): Halo… Pak Guru
Urip (U): Iya… Ibu Guru.
A: Intinya besok tetap konsisten pada semula itu. Pokoknya perbengkelan itu kan ada. Sudah kan ininya, apa namanya…?
U: Sudah saya kasihkan itu…
A: Bukan, ininya, proposal bengkelnya.
U: Ya…
A: Jadi semua itu, bengkel kan juga logis itu. Saya bilang itu kan dulu ada tanah di situ. Saya minta inilah, tetapi nanti ditanyain bagaimana saudara terdakwa keterangannya. Nanti saya bilang udah cukup. Begitu ceritanya….
U: Eehhhhh eeeeh
A: Anda kan dalam sidang lima rektor itu. Trus yang lima rektor itu Anda kan menghadap dia, yang paling kiri. Itu Pasti, dia ngulitin. Biasa, dia pasti yang namanya ujian gitu dia pasti keras ininya (pernyataan ini membuat pengunjung tertawa). Urip ngerti hukum. Iya kan. Pokoknya sesuai ini aja. Anda tunjukan bahwa saya ini ya begini. Pasal ini tidak boleh boleh men-judgement orang.
A: Terus kalau masalah surat, ungkapan itu, terserah Anda mau membuatnya bagaimana. Yang paling penting intinya begitu….
U: Iya
A: Paham kan?
U: Iya, saya masih inget semuanya….
A: Ndak, semula saya kan konsultasi, karena…. Eeh, ini hpnya aman. Kalau saya kan nomor Singapura.
U: Saya cuma sama istri aja…. Saya sendiri kok.
A: Enggak ada orang lain…?
U: Enggak, enggak kok.

Dari Koran Tempo:
SANDIWARA DUA GURU
Sama-sama di sel tahanan, sama-sama pegang telepon seluler, jadilah skenario baru untuk disodorkan di persidangan. Itulah yang dilakukan Artalyta Suryani alias Ayin dengan jaksa Urip Tri Gunawan dalam percakapan pada 10 Juni 2008, pukul 21.00 WIB, yang disadap Komisi Pemberantasan Korupsi.
Seperti diperdengarkan dalam persidangan Urip, terdakwa kasus penerima suap US$ 660 ribu dari Artalyta, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, kemarin, keduanya mengatur skenario untuk menghadapi lima ”rektor”, sebutan keduanya untuk majelis hakim. Inilah petikannya:

Ayin: Halo, Pak Guru.
Urip: Iya, Ibu Guru.
Ayin: Jadi gini, ya. Prinsipnya besok itu sesuai keterangan beliau-beliau sama yang itu. Kemarin kan beliau sudah membantu Anda itu. Dia menyatakan, “Pokoknya dari awal nggak ada indikasi.”
Urip: Terus?
Ayin: Jadi besok seperti begitu saja. Seperti keterangan yang itu yang dibaca di BAP saya, itu bagus.
Urip: Ya.
Ayin: Intinya, besok tetep konsisten pada jumlah itu. Pokoknya perbengkelan itu, kan. Sudah ada kan ininya…, apa itu?
Urip: Apa itu?
Ayin: Ininya, proposal bengkelnya.
Urip: Ya…, ya….
Ayin: Jadi, itu bengkel kan sudah logis. Saya bilang itu ada tanah di situ.
Urip: Ya.
Ayin: Tapi kan nanti ditanyain, “Bagaimana Saudara terdakwa keterangannya?” Nanti saya bilang, “Udah cukup.” Ya, memang begitu ceritanya. Tapi, mesti yang diinget, besok yang satu itu, yang paling ujung…. Anda kan menghadap lima rektor majelis hakim—Red.), nah itu yang paling kiri (tempat duduk hakim Andi Bachtiar). Nanti, dia pasti ngulitin. Biasa, yang namanya ujian, dia pasti keras.

Pengakuan sebelumnya:
“Duit yang diterima dari Artalyta adalah hasil penjualan permata. Seratus persen tidak ada kaitan dengan jabatan saya.”
URIP, 3 MARET 2008
Pak Urip mau berdagang (permata). Itu dibiayai Artalyta.” —
JUNAIDI ALBAB SETIAWAN,KUASA HUKUM URIP, 11 MARET 2008
“Selain bisnis permata, Urip berencana membuka bengkel.” —
JUNAIDI ALBAB SETIAWAN,KUASA HUKUM URIP, 15 MARET 2008
Uang yang diberikan kepada Urip untuk membuka usaha di bidang perbengkelan.”
ARTALYTA, 30 JUNI 2008