Laporan yang menarik perhatian saya hari ini adalah hasil laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan yang pada intinya Pemerintah Indonesia (TNI, Polri dan Sipil) bertanggung jawab atas kejahatan dan kekerasan yang terjadi di Timor Timur pasca jajak pendapat tahun 1999. Anehnya laporan ini bocor ke media Australia The Sydney Morning Herald. Ada apa ini?

Saya setuju semua yang bersalah dihukum atau diberi sanksi, tetapi harus adil jangan pilih kasih. Coba lihat apa yang Amerika Serikat lakukan di Irak? Israel di Palestina? Tidakkah kejahatan dan kekerasan yang dilakukan mereka lebih berat dan parah? Tetapi bagaimana sikap negara-negara yang ‘menyerang kejahatan Indonesia’ di Timor Timur pada mereka?

Jika tidak mendapat perlakukan adil, Pemerintah Indonesia jangan takut untuk melawan dan memperjuangkan perlakukan yang adil untuk semua bangsa!

1. Pelanggaran HAM di Timor Timur : TNI Siap Bertanggung Jawab

    Yang bersalah cukup minta maaf.
    JAKARTA — Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Djoko Santoso menyatakan siap bertanggung jawab jika institusinya terlibat dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste (waktu itu Timur Timor) semasa jajak pendapat pada 1999.
    “Kalau memang institusi, saya siap bertanggung jawab,” kata Djoko Santoso setelah mendampingi Presiden Yudhoyono bertemu dengan Presiden Republik Federasi Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva di Istana Merdeka kemarin.
    Djoko menyatakan belum bisa merumuskan bentuk pertanggungjawaban itu karena belum menerima rekomendasi Komisi Kebenaran dan Persahabatan secara resmi.
    Menurut Djoko, rumusan pertanggungjawaban dibuat setelah institusinya menerima rekomendasi Komisi yang dibentuk pemerintah Indonesia dan Timor Leste tersebut. Hingga kemarin, Presiden belum memberikan instruksi apa pun kepada TNI terkait laporan Komisi setebal 321 halaman itu. “Kita tunggu saja,” kata Djoko.
    Menurut rencana, laporan itu akan diserahkan kepada Presiden Yudhoyono dan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta di Denpasar, Bali, Selasa mendatang. Meski bersifat rahasia, laporan ini sudah bocor ke sejumlah media internasional.
    Dalam laporan berjudul Per Memoriam Ad Spem itu disebutkan telah terjadi kejahatan kemanusiaan secara terorganisasi di Timor Timur ketika dilakukan jajak pendapat pada 1999. Kejahatan itu meliputi pembunuhan, pemerkosaan dan pelbagai bentuk kekerasan seksual, penyiksaan, penahanan, dan pengusiran terhadap warga sipil.
    Komisi ini juga menyimpulkan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia, dan pemerintah sipil harus bertanggung jawab secara kelembagaan karena terlibat.
    Saat pelanggaran kemanusiaan terjadi, Panglima ABRI (sekarang TNI) dijabat oleh Jenderal Wiranto. Sedangkan Kepala Polri dijabat oleh Jenderal Roesmanhadi.

2. Komisi Yudisial Segera Periksa Hakim Khaidir

    Mahkamah Agung dianggap melanggar aturan.
    JAKARTA — Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas mengatakan, pihaknya akan memeriksa Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat Khaidir yang dicopot Mahkamah Agung, Jumat lalu. “Keputusan Mahkamah Agung tidak mempengaruhi niat kami memeriksa Khaidir,” kata Busyro kemarin.
    Komisi Yudisial, menurut Busyro, telah mengirimkan surat pemanggilan kepada Khaidir. Surat itu ditembuskan kepada Presiden, Komisi Hukum DPR, dan Mahkamah Agung. Komisi Yudisial juga sudah meminta Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan memerintahkan Khaidir memenuhi panggilan Komisi Yudisial.
    Khaidir dicopot dari jabatannya karena dinilai melanggar Peraturan Pegawai Negeri Sipil dan Kode Etik Hakim. Khaidir dinyatakan berinisiatif menghubungi Artalyta untuk meminta bantuan dana berlibur dan bermain golf di Cina. Artalyta adalah tersangka kasus suap jaksa Urip Tri Gunawan.

3. Pengelola Jalan Tol Merak Rugi Ratusan Juta

    Antrean kendaraan mencapai 11 kilometer.
    MERAK — Pengelola jalan tol Cilegon Barat hingga tol Merak merugi hingga ratusan juta rupiah akibat kemacetan arus kendaraan menuju pelabuhan penyeberangan Merak. Kemacetan berlangsung sejak Rabu lalu.
    “Sampai hari ini kami rugi hingga Rp 400 juta dari total penerimaan,” kata penyelia tol Cilegon Barat dan tol Merak PT Jasa Marga Mandala Sakti, Dudung Widjaya, kemarin.
    Selain kerugian materi, kendaraan bertonase besar dalam kondisi diam membuat struktur permukaan jalan bergelombang. “Kerugian jadi berlipat.”
    Sejak pagi kemarin, panjang antrean kendaraan mencapai sekitar 11 kilometer, yakni lima kilometer dari gerbang tol Merak dan enam kilometer pada ruas tol Cilegon Barat hingga tol Merak. Antrean dipenuhi oleh kendaraan berat seperti truk dan trailer itu berhenti di badan jalan. Antrean cenderung bertambah karena menjelang akhir pekan yang merupakan hari terakhir liburan sekolah.

4. Pembunuh Keluarga Pengusaha Ditangkap

    Pisau dan sarung tangan yang dipakai membunuh sudah dibuang.
    JAKARTA — Polisi membekuk Ahmad Falah yang diduga kuat sebagai pembunuh anggota keluarga pengusaha pakan ternak, Musherto.
    Falah adalah suami pembantu rumah tangga Musherto, Tusmiatun. Ia ditangkap di rumah kos temannya di Jalan Maung, Ciputat, Jumat, pukul 23.00 WIB. Dari tangannya, polisi menyita barang bukti berupa kamera digital, charger telepon seluler, dan uang Rp 1,1 juta hasil penjualan ponsel. Pisau dan sarung tangan yang dipakai membunuh sudah dibuang.
    “Dia berencana mengambil emas, tapi ketahuan,” kata Kepala Unit II Kejahatan dan Perampasan Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Helmi Santika kemarin di kantornya. Pelaku lantas menghabisi nyawa Winston Renaldi, 17 tahun, dan Lidwina Ivy, 23 tahun, masing-masing putra dan menantu Musherto.
    Pencurian di rumah mewah Musherto, 60 tahun, Jalan Kartika Pinang I Nomor 16 RT 14, RW 16, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Kamis lalu dilakukan Falah dengan bantuan Tusmiatun.

5. Korban Mutilasi Dibuang di Kebagusan

    Ketika ditemukan, darah mayat berbau amis dan sekujur tubuh korban, termasuk wajah dan penis, penuh luka sayatan.
    JAKARTA — Jasad seorang pria korban mutilasi ditemukan dalam tiga wadah terpisah kemarin di Jalan Raya Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Warga setempat menemukannya sekitar pukul 08.00 WIB. Ketika ditemukan, darah mayat berbau amis dan sekujur tubuh korban, termasuk wajah dan penis, penuh luka sayatan.
    Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Chairul Anwar menjelaskan kepala korban dimasukkan dalam tas ransel cokelat yang diletakkan di bawah pohon. Bagian badan lainnya ditemukan di lahan kosong di seberang jalan. Badan yang masih menyatu dengan lengan kiri dimasukkan dalam koper biru.
    “Lengan kanan, paha, dan kaki kanan-kiri dibungkus kantong kresek plastik warna merah,” katanya di kantornya kemarin.
    Penyidik, kata Chairul, berhasil menyusun tujuh potongan tubuh itu hingga lengkap, namun belum mengetahui identitas lelaki malang itu. Hingga kemarin sore, belum ada yang mengaku keluarga korban.
    Menurut Dokter Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Mun’im Idris, korban berusia sekitar 30 tahun, tinggi 170 sentimeter, rambut lurus, hidung mancung, kulit sawo matang, dan golongan darah O. “Orangnya ganteng,” kata Mun’im.

6. Partai : Uang dihambur-hamburkan untuk itu, padahal begitu banyak orang papa di sekitar kita.

    Putu Setia
    Ketika menonton Muhaimin Iskandar berebutan mengambil nomor urut partai dengan Yenny Wahid, istri saya kembali kambuh kesalnya gara-gara partai yang ia dirikan tidak lolos dalam verifikasi Komisi Pemilihan Umum.
    “Padahal partai itu akan menjadi partai besar. Namanya saja Partai Besar, tentu aneh kalau tetap kecil. Nama partai itu sudah Ibu pikirkan matang-matang dan masyarakat pasti akan mendukungnya. Sekarang ini di mana-mana orang berteriak Tuhan Mahabesar. Itu artinya harus diayomi oleh Partai Besar. Wong cilik pasti ingin menjadi besar, dan orang-orang besar tak akan mau menjadi orang kecil. Nah, partai Ibu akan didukung,” kata istri saya menyerocos. “Belum lagi masalah-masalah kecil yang ada di negeri ini selalu dibesar-besarkan, bukankah itu pertanda partai Ibu akan laku?”
    Saya sudah capek menasihati kalau istri saya itu sebenarnya lagi sakit. Ya, seperti orang-orang besar yang mendirikan partai itu, sejatinya mereka itu “orang sakit”. Mereka harusnya istirahat setelah menjadi kaya dari sebuah rezim. Mendirikan partai kentara sekali hanya untuk memuaskan nafsu berkuasa, bukan itikad luhur untuk melayani masyarakat. Uang dihambur-hamburkan untuk itu, padahal begitu banyak orang papa di sekitar kita.