Dua berita utama Kompas mengenai partai politik. Satu berita mengenai belajar ‘energi’ ke Brasil dan beberapa berita lain.

Logika politik memang bisa berputar-putar dan berputar balik. Apakah adanya banyak partai baru itu tanda Rakyat tidak percaya Parpol lama, atau para politisi di Partai Baru yang tidak mendapat tempat di partai lama? Atau lebih suka jadi raja kecil dari pada punggawa besar? Apakah untuk kepentingan rakyat atau untuk kepentingan sendiri? Tanyalah pada hati nurani masing-masing, bukan pada Hanura ya?:mrgreen:

1. Rakyat Kecewa kepada Politisi : Massa Pilkada Bertemu dengan Massa Pemilu 2009

    Jakarta, Kompas – Masyarakat cenderung jenuh dan kecewa terhadap pemimpin politik. Hal itu mengakibatkan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan politik, seperti pilkada, menjadi rendah. Oleh karena itu, parpol peserta Pemilu 2009 harus mampu mengajak masyarakat berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.
    Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary pada acara deklarasi kampanye damai di Jakarta, Sabtu (12/7) malam. Acara yang diselingi beberapa tarian dan lagu itu diikuti ketua dan pengurus 34 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009, misalnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono, Sekretaris Jenderal PDI-P Pramono Anung, Ketua PKB versi MLB Parung Ali Masykur Musa.
    Anshary mengatakan, dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) selama ini terlihat kecenderungan partisipasi masyarakat dalam kegiatan politik. ”Kampanye damai Pemilu 2009 memiliki makna penting. Dalam pengamatan di lapangan akhir-akhir ini, terdapat fenomena rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pilkada,” katanya.
    Rendahnya tingkat partisipasi itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kejenuhan masyarakat, kekecewaan kepada pemimpin politik, dan kurangnya sosialisasi pemilu.
    Oleh karena itu, lanjutnya, dalam kampanye damai Pemilu 2009, parpol harus mampu meningkatkan partisipasi masyarakat.

2.RI Belajar dari Brasil : Brasil Telah Mampu Mengatasi Krisis Energi

    Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, Indonesia akan banyak belajar dari keberhasilan Pemerintah Brasil mengatasi krisis energi yang pernah terjadi. Indonesia akan belajar mengembangkan dan mengelola energi alternatif yang berbasis etanol yang berhasil mengatasi krisis energi.
    Tak hanya itu, Presiden Yudhoyono juga mengutarakan maksudnya untuk belajar dari kesuksesan Brasil meningkatkan produksi pangan.
    Untuk itu, selain akan mengirim delegasi yang lengkap untuk menghadiri seminar internasional tentang bioetanol di Brasil menjelang akhir tahun ini, Indonesia juga akan mengirim lebih banyak lagi mahasiswa program beasiswa khusus terkait energi.
    Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat mengadakan keterangan pers bersama Presiden Brasil Lula da Silva di Ruang Credential, Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (12/7). Dalam kunjungan dua harinya di Indonesia itu, Presiden Brasil menyertakan 25 anggota delegasi dan ratusan pengusaha Brasil.
    Sebelumnya, Presiden Yudhoyono bersama Presiden Lula da Silva menyaksikan penandatanganan perjanjian nota kesepahaman (MOU) tentang kerja sama di bidang teknik produksi dan pengembangan bahan bakar etanol. MOU itu ditandatangani Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim.
    Dua perjanjian lainnya yang ikut ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda adalah mengenai pendidikan serta pembebasan visa untuk paspor diplomat dan dinas kedua negara.

3. Hari Koperasi : Presiden: Bantulah dan Kembangkan Koperasi

    Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, koperasi serta usaha kecil dan menengah paling efektif memerangi kemiskinan. Koperasi adalah institusi yang paling tepat dalam meningkatkan penghasilan rakyat.
    ”Kalau kemiskinan ingin berkurang, bantulah dan galakkan koperasi. Kalau pengangguran ingin berkurang, bantulah dan kembangkan koperasi. Kalau rakyat ingin baik produksi pangan, energi, dan ekonomi kerakyatannya, sekali lagi bantulah dan kembangkan koperasi,” kata Presiden, mengingatkan jajaran pemerintah pusat dan daerah, termasuk bupati dan wali kota, dalam sambutan pada peringatan Hari Ulang Tahun Ke-61 Koperasi di Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, Sabtu (12/7).
    HUT Koperasi kali ini bertemakan ”Revolusi Perkoperasian Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Rakyat”. Ini diselenggarakan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
    Presiden Yudhoyono mengatakan, koperasi harus ambil peran nyata mengatasi dan memberikan jalan keluar pada krisis pangan dan energi. Akhir-akhir ini koperasi melakukan kegiatan konkret untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengembangkan energi alternatif.
    ”Usaha ini sangat tepat. Negara maju juga melakukan kegiatan ini. Koperasi adalah tiang, pilar, dan saka guru ekonomi Indonesia,” kata Presiden.

4. Parpol Baru : Rakyat Tak Percaya Parpol Lama

    SEMARANG, KOMPAS – Banyaknya partai politik peserta Pemilihan Umum 2009 disebabkan rakyat sudah tidak percaya kepada partai-partai lama. Selain itu, rakyat juga ingin mencari figur pemimpin alternatif melalui parpol baru.
    Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Muladi mengemukakan itu di Semarang, Sabtu (12/7). ”Beberapa parpol baru yang bermunculan adalah bentuk kegagalan parpol lama untuk melahirkan calon pemimpin baru. Akan tetapi, membentuk parpol baru adalah hak asasi setiap orang yang dilindungi undang-undang,” kata Muladi.
    Muladi yang juga Ketua Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Otonomi Daerah pada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar mengkritik sistem demokrasi di Indonesia yang dia nilai masih dibangun dengan cara mobilisasi massa yang dilakukan parpol.
    Menurut dia, parpol telah memperalat rakyat untuk kepentingan parpol semata. Seharusnya, demokrasi tumbuh murni berdasarkan partisipasi rakyat.
    ”Salah satu solusinya adalah pendidikan politik rakyat kita harus diperbaiki. Dalam hal ini, parpol memiliki peran penting mencerdaskan masyarakat dalam berpolitik,” tutur Muladi.

5. PARIWISATA SULUT : Mengemas Akar Budaya, Membidik Peluang Wisata

    Denting kulintang sayup-sayup mengiringi belaian sejuknya udara di lereng Gunung Soputan, Minahasa, 60 kilometer barat Kota Manado, Sulawesi Utara. Hari itu pertengahan Juli 2008, di atas bukit, puluhan penari meliuk-liuk di altar terbuka berlantai papan kayu diiringi musik kulintang dan tabuhan tambur.
    Pasukan kebesaran berkostum merah menyala menjaga prosesi adat dengan tombak dan pedang terhunus. Prajurit adat itu mengenakan topi berhias bulu burung manguni (burung hantu), elang, dan rangkong. Replika paruh burung dipasang di ujung depan topi.
    Di bukit itu, berkumpul sembilan subetnis Minahasa, yaitu Tonsamang, Ponosakan, Tonsea, Bantik, Tontemboan, Tombulu, Pasan, Ratahan, dan Tolour. Mereka sedang merunut jejak leluhur melalui akar budaya Minahasa yang terus meredup menuju kegelapan sejarah.
    Keturunan To’ar dan Lumimu’ut itu menyambangi leluhur mereka yang spiritnya terpahat di tubuh Watu Pinawetengan di Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Minahasa, Sulut. Mereka merunut jejak leluhur yang melakukan maesaan, berjanji setia untuk bersatu dalam perbedaan.

6. PELUNCURAN BUKU : Komunikasi sebagai Jembatan Atasi Konflik

    Jakarta, Kompas – Di tengah arus perubahan di Tanah Air, perbedaan pandangan dan kepentingan bisa memicu konflik antarkelompok. Untuk itu, komunikasi di segala bidang perlu dibuka seluas-luasnya.
    Hal itu terungkap dalam acara peluncuran buku berjudul Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia dan kumpulan cerita pendek karya M Alwi Dahlan, Penyombong Kelas Satu, Sabtu (12/7) di Wisma Antara, Jakarta, sebagai peringatan 75 tahun usia Prof M Alwi Dahlan.
    Dalam buku berjudul Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia, Alwi menuliskan, komunikasi tidak hanya terkait media massa, tetapi cakupannya sangat luas, meliputi segala segi dan bidang kehidupan manusia. Oleh karena itu, komunikasi perlu dipahami secara antardisiplin ilmu dan melewati tantangan yang membatasi hubungan antarmanusia. Buku itu juga berisi pengamatan dari beragam sudut pandang terhadap kiprah M Alwi Dahlan sebagai pakar dan praktisi komunikasi, juga sebagai Menteri Penerangan Kabinet Pembangunan VII di bawah Soeharto.
    Setelah menggeluti berbagai bidang, seperti pendidikan, pemerintahan, kesenian, guru besar ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini berpandangan, ”Komunikasi itu penting dilihat dari kacamata apa pun.”

7. RI Tunggu Laporan Resmi : Tanggapan Disampaikan 15 Juli

    Jakarta, Kompas – Meskipun harian The Sydney Morning Herald telah mengungkapkan sebagian isi dari laporan hasil kerja dan rekomendasi Komisi Kebenaran dan Persahabatan, Pemerintah Indonesia tidak ingin berkomentar lebih dahulu sebelum menerima secara resmi laporan tersebut.
    Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menjawab pers seusai jamuan makan siang di Istana Negara, Jakarta, untuk menghormati kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Lula Da Silva, Sabtu (12/7).
    ”Laporan resminya saja kita belum terima. Tunggu saja. Tanggapan pemerintah, baik Pemerintah Indonesia dan Timor Leste, nantinya akan diwakili oleh kedua presiden dan baru disampaikan pada 15 Juli di Bali,” kata Hassan.
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Timor Leste Ramos Horta akan bertemu di Denpasar, Bali, Selasa (15/7), untuk memberikan keterangan pers bersama setelah menerima laporan hasil kerja dan rekomendasi Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP).
    Sebagaimana diberitakan, harian yang terbit di Australia itu menyebutkan, Indonesia dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur semasa jajak pendapat penentuan kemerdekaan tahun 1999. Disebutkan, TNI, Polri, dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas pelanggaran HAM saat referendum dilakukan.
    Menanggapi itu, Hassan mengatakan, ”Mungkin bisa saja. Akan tetapi, apa betul seperti itu. Kita, kan, belum tahu. Kalau bisa, saya tidak perlu menanggapi apa-apa sekarang. Jadi, nanti saja dengar pada waktunya.”

8. Musik : Perayaan Rock Lintas Generasi

    Susi Ivvaty
    Bagaimana jika grup rock yang dianggap ”legendaris” semacam Gang Pegangsaan, Elpamas, Shark Move, dan Noor Bersaudara ”beradu” dengan Koil, serta grup-grup underground yang diawaki anak-anak muda? Inilah perayaan musik rock lintas generasi.
    Lebih dari 100 grup rock manggung lewat ajang Jakarta Rock Parade, 11-13 Juli 2008 di Tennis Indoor & Outdoor Senayan, Jakarta. Sesuai dengan namanya, Jakarta Rock Parade ingin menyuguhkan parade berbagai jenis aliran rock dan komunitas musik rock di dalam satu ajang berkonsep multiconcert dan multistage. Ini semacam festival mirip Java Jazz Festival kalau untuk musik jazz.
    Panitia mendirikan empat panggung di seputaran Tennis Indoor Senayan dan satu-persatu grup band secara mengalir naik ke panggung. Satu grup tampil selama 15-30 menit sebelum digantikan band lain.
    Grup yang tampil di antaranya Nidji, The Changcuters, Pas Band, The Upstair, Superglad, Killed by Butterfly, Dead Squad, dan Bite. Parade yang dipromotori PT Bagawanta Intra Ganendra (BIGanendra) ini juga mendatangkan beberapa grup dari luar negeri, seperti The Tielman Brothers.
    Grup asal Maluku yang menetap di Belanda terdiri dari Andy Tielman dan kawan-kawan ini dikenal kerap tampil sambil melompat-lompat atau berguling-guling sambil memainkan gitar. Grup tersebut tampil Sabtu (12/7) malam.
    Pada Minggu (13/7), yang menjadi hari terakhir parade, tampil grup band antara lain VooDoo, Naif, Elpamas, Zeke & The Popo, Pure Saturday, Mono, serta grup band dari Italia, Brandon Ashley & The Silverbug. Pertunjukan dimulai pukul 15.00 dan berakhir tengah malam.