Saya adalah termasuk yang setuju dengan kenaikan BBM pada tahun 2005 walaupun alasannya berbeda dengan Pemerintah. Namun kebijakan SBY menaikkan BBM tahun 2008 justru akan makin menjerumuskan rakyat dalam penderitaan yang akan terus berkepanjangan dan pembelokan dari apa yang sebenarnya harus dilakukan selaku Presiden.

Waktu dinaikkan 24 Mei 2008, harga BBM sekitar US$ 120/barel dan asumsi APBN adalah US$ 95/barel. Sekarang harga minyak sudah mencapai US$ 146/barrel, hanya dalam waktu sekitar 1 bulan saja! Bagaimana jika terus naik sampai US$ 200/barel? Apa tidak jebol anggaran negara dan ekonomi Indonesia morat-marit?

Ini jelas ulah spekulan yang punya uang banyak serta kekuasaan! Harga pokok produksi minyak saat ini hanya sekitar US$30-40 per barel, bayangkan keuntungan yang diraih para ‘penjahat ekonomi ini’, meraih keuntungan berlipat-lipat dari penderiaan orang banyak, termasuk rakyat Indonesia.

Selaku Presiden yang memiliki kekuasaan, akses terhadap informasi yang jauh lebih baik dari kebanyakan orang Indonesia, serta tidak kalah penting memiliki staf ahli/pembantu Presiden yang sangat pakar, adalah sangat aneh jika yang dilakukan adalah meminta rakyat terus berhemat, tetapi para pelaku ekonomi yang jahat dibiarkan saja!

Jika masih sulit mengendalikan spekulan global, cobalah mulai dari dalam negeri dulu. Mulailah dari Pertamina! Cek dan Audit secara transparan apa yang terjadi dalam bisnis minyak Indonesia. Mungkin bukan Pertamina yang bersalah, tetapi untuk mengetahuinya bisa dimulai dari sana.

KPK juga sebaiknya segera bergerak, jangan hanya menyidik kasus-kasus yang bisa diungkap dengan bantuan teknologi penyadapan dan menangkap basah para penerima uang. Sidik dan bongkar para pelaku jahat dalam bisnis minyak Indonesia yang telah membuat sebagian besar rakyat Indonesia menderita dan akan terus merana jika harga minyak terus membumbung hingga US$ 200 per barel!