Gerakan anti korupsi makin galak saja sekarang, nampaknya banyak kalangan yang mendukung KPK agar bisa makin bertaring dan berwibawa. Salah satu bentuk dukungannya adalah suplai data korupsi yang terus mengalir serta dukungan agar KPK makin bebas dari kooptasi diantara dalam bentuk melaporkan semua pemberian, tidak boleh menerima honor saat jadi pembicara dan jangan mau dijemput.

PON ke-17 di Kaltim juga mendapat porsi cukup penting, 2 berita utama. Mudah2an bis mendorong prestasi olahraga Indonesia yang terus menurun.

Sebagai penghormatan pada Perguruan Taman Siswa yang makin memprihatikan, saya muat secara lengkap beritanya yag dikutip dari koran Kompas.

1. Sebelas Modus Korupsi : Rapat Anggaran Harus Terbuka, Kode Etik Diperkuat

    Jakarta, Kompas – Ada banyak cara dan upaya para pejabat atau penyelenggara negara pada berbagai lembaga, badan, maupun instansi untuk melakukan penyimpangan sampai menyelewengkan uang negara. Setidaknya, ada sebelas modus yang sudah tercium sebagai praktik korupsi tersebut.
    Kesebelas modus itu mulai dari pemberian bantuan partisipasi, perjalanan, hubungan baik, sampai penempatan pegawai.
    Ichsanuddin Noorsy, anggota Tim Indonesia Bangkit, menyampaikan analisisnya itu dalam diskusi Dialektika Demokrasi yang diadakan Koordinatoriat Wartawan DPR, Jumat (4/7).
    Hadir juga sebagai pembicara, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi M Yasin, Ketua F-Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Siddiq, Panitia Anggaran DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Eva Kusuma Sundari. ”Penempatan PNS atau BUMN itu juga untuk mendapatkan proyek nantinya,” papar Ichsanuddin.
    Dalam kesempatan itu, Ichsanuddin menyerahkan secara resmi dokumen dugaan korupsi yang melibatkan tiga instansi kepada M Yasin.

2. Perebutan Medali : Jabar Rebut Dua Medali Emas Perdana

    BALIKPAPAN, KOMPAS – Dua medali emas perdana Pekan Olahraga Nasional XVII di Kalimantan Timur jatuh ke Kontingen Jawa Barat. Dua medali tersebut disumbangkan Grand Master Susanto Megaranto dan Master Internasional Wanita Irene Kharisma yang memenangi nomor catur cepat putra dan putri, Jumat (4/7).
    Kemenangan Grand Master (GM) Susanto ini sesuai prediksi. Hingga tujuh babak yang dipertandingkan, Kamis, Susanto mengumpulkan nilai sempurna. Susanto dipaksa remis, Jumat, saat berhadapan dengan Master Nasional Joko Santoso dari Jawa Tengah pada babak delapan.
    Hingga babak sembilan selesai dipertandingkan di Hotel Tarakan Plaza, Susanto mengantongi nilai 8,5, mengungguli pecatur tuan rumah Kalimantan Timur, Irwanto Sadikin, yang meraih nilai 8. Medali perunggu jatuh ke tangan Danny Juwanto dari DKI Jakarta dengan nilai 6,5.

3. Pon XVII : Koordinasi Rumit, Informasi Terbatas

    Kalimantan Timur boleh bangga dengan berbagai fasilitas olahraga baru nan megah untuk Pekan Olahraga Nasional XVII. Sayangnya, hal itu tidak didukung ketersediaan faktor penunjang lainnya.
    Sarana akomodasi, transportasi, bahkan informasi sangat terbatas. Rumitnya koordinasi dengan panitia lokal menjadi penyebab dari kondisi tersebut.
    Pada cabang panjat tebing yang digelar di sekitar Kompleks Stadion Utama Palaran, misalnya, di hari kedua perlombaan, Jumat (4/7), tak tersedia data mengenai peserta yang akan berlomba pada hari itu.
    Salah satu juri cabang tersebut, Firdaus mengatakan, pihaknya kesulitan menyediakan data karena terbatasnya peralatan kerja. Kendala ini dialami sejak tim juri dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) tiba di Samarinda akhir Juni lalu. Saat itu, mereka sebenarnya sudah berupaya menyediakan data atlet untuk kontingen, tetapi tidak dapat dilakukan.

4. Listrik : Pengurangan Jam Kerja Industri Dipersoalkan

    Jakarta, Kompas – Sejumlah pelaku industri mempersoalkan rencana pemerintah mengatur jam kerja operasional industri dan pabrik dalam rangka penghematan listrik. Pelaku industri perikanan dan gudang pendingin (coldstorage) bahkan menolak keras rencana itu karena akan berdampak fatal pada industri perikanan yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
    Ketua Asosiasi Pengusaha Coldstorage Indonesia (APCI) Regional Jawa Timur Johan Suryadarma, di Surabaya, Jumat (4/7), mengemukakan, kebijakan penghematan listrik itu menimbulkan ketidakpastian bagi kalangan industri. Menurut Johan, selama ini industri perikanan mengadopsi mata rantai dingin (cold chain system) yang secara kontinu membutuhkan listrik dan kestabilan suhu penyimpanan minus 25 derajat celcius.
    Data Departemen Perindustrian menunjukkan, industri-industri yang bakal terkena dampak penghematan konsumsi listrik, ternyata berkontribusi besar pada perekonomian nasional. Industri pertanian, peternakan dan perikanan menyumbang 13,83 persen (2007). Pada tahun yang sama, industri pengolahan menyumbang 27,01 persen.

5. Kalau Perlu Bunuhlah Aku

    Bulan depan bangsa ini merayakan kemerdekaan yang ke-63. Apa boleh buat, nyaris semua warga makin hari makin merasa belum merdeka.
    Tanggal 12 Juli kampanye Pemilu 2009 resmi dimulai melalui metode rapat tertutup. Namun, awal pesta demokrasi itu justru disambut sikap waswas dan apatis.
    Ambil contoh, jumlah golput pilgub di provinsi-provinsi besar, hampir separuh dari total jumlah pemilih. Di satu pihak, golput merupakan koreksi terhadap demokrasi yang timpang, di lain pihak menjadi masalah yang memprihatinkan.
    Tak sedikit warga waswas dengan ”keramaian politik” yang malah menjadi ajang kekerasan. Peristiwa di Monas 1 Juni lalu atau demonstrasi mahasiswa yang berubah menjadi kerusuhan menimbulkan rasa khawatir terjadi lagi saat kampanye.
    Undang-Undang Pemilu dirumuskan dengan asal-asalan. Misalnya, yang mengatur porsi pemberitaan media yang harus merata, berikut risiko-risiko yang dihadapi wartawan.
    UU itu dengan serampangan menyebutkan pencabutan izin terbit bagi media yang dianggap tak adil dalam pembagian porsi pemberitaan. Padahal, izin seperti SIT atau SIUPP tak ada lagi.

6. Bom Dirakit di Kamar Kos : Keluarga Korban Penembakan Teroris Bersyukur

    Palembang, Kompas – Bom yang dimiliki oleh kelompok jaringan terorisme di Palembang, Sumatera Selatan, banyak yang dirakit di suatu kamar indekos di kawasan permukiman padat penduduk di tengah kota. Sebagian lainnya dirakit di tempat yang lebih terpencil di pinggir kota.
    Hingga Jumat (4/7), sudah 22 bom yang diinventarisasi oleh polisi. Dua di antaranya ditemukan di luar kota, yaitu di Kabupaten Muba dan Ogan Komering Ilir.
    Selain itu, polisi menemukan bom di Sekayu, Muba, di tempat Alim alias Omar ditangkap. Polisi menemukan bom itu, Kamis di ruko tempat Omar mengajar bahasa Inggris di Sekayu. Bom dikemas dalam wadah plastik.
    Bom lain ditemukan di rumah Ali Mashudi di Desa Bumiarjo, Blok C, Lempuing, Ogan Komering Ilir. Alat peledak itu ditemukan di bawah tempat tidur di kamar Ali.

7. Perguruan Taman Siswa Terancam Runtuh

    Yogyakarta, Kompas – Dari tahun ke tahun, Perguruan Taman Siswa terus mengalami kemunduran dari segi peminat dan peran. Tanpa ada upaya perbaikan dan perubahan, Taman Siswa diperkirakan akan collapse dalam lima tahun ke depan. Kini, Taman Siswa tidak lagi dianggap sebagai sekolah berkualitas. Suara Taman Siswa juga sudah tidak diperhitungkan lagi oleh para penentu kebijakan pendidikan nasional.
    ”Pemikiran Ki Hadjar Dewantara harus ditulis ulang agar bisa diikuti oleh generasi muda. Program perbaikan Taman Siswa dalam waktu dekat jangan mengejar perbaikan kualitas, tetapi kuantitas dulu,” ujar pakar pendidikan, Darmaningtyas, pada sarasehan bertajuk ”Peran Taman Siswa dalam Pendidikan, Kebudayaan, dan Pembangunan Masyarakat, Jumat (4/7) di Yogyakarta.
    Dari segi jumlah, kini hanya ada 45.000 murid di semua jenjang Perguruan Taman Siswa. Dulu sempat mencapai 11.000 murid di tahun 1936. Generasi muda yang lahir setelah 1980-an cenderung hanya mengenal nama Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri Taman Siswa.
    Perguruan Taman Siswa, dari Taman Indira setingkat taman kanak-kanak hingga Taman Madya setara sekolah menengah atas, juga kian sulit ditemukan karena banyak yang tutup. Padahal Perguruan Taman Siswa pernah berperan besar dalam mencerdaskan dan memerdekakan bangsa.
    Kemunduran itu berlangsung sejak ditangkapnya para pemikir kritis nonkomunis dari Taman Siswa pada 1965. Seiring berjalannya waktu, manajemen Taman Siswa juga dinilai tidak mampu mengimbangi perkembangan sekolah negeri dan swasta yang membaik. Reformasi di tingkat satuan pendidikan dan tatanan organisasi, menurut Darmaningtyas, perlu dilakukan. (WKM)