Walaupun headline masih mengenai kecelakaan pesawat Casa NC-212, tetapi berita politik kembali mendominasi pemberitaan Kompas dengan 2 berita. Topik menarik lainnya adalah mengenai masalah yang dihadapi daerah dalam mendapatkan/akses buku pelajaran gratis melalui internet.

Hasil investigasi singkat yang saya lakukan, website http://bse.depdiknas.go.id (baik menggunakan Speedy maupun XL mobile) sangat sulit diakses dalam beberapa hari belakangan. Mungkin banyak yang sedang mencoba akses sayangnya website ini tidak siap menerima beban traffic yang tinggi dan beban unduh (download) yang besar. Mudah2an bisa segera diatasi oleh Depdiknas.

1. Pesawat CASA 212 Terlalu Tua : Wapres: Karena Keadaan Ekonomi, Kita Tidak Bisa Menambah Pesawat Baru

    Jakarta, Kompas – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan rasa dukacita yang mendalam atas musibah yang menimpa pesawat CASA 212 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan menewaskan 18 penumpangnya.
    Wapres mengemukakan, salah satu penyebab musibah tersebut adalah usia pesawat terlalu tua. ”Pesawat itu umurnya 30 tahun. Karena ekonomi kita tidak kuat, kita tidak bisa menambah pesawat baru. Untuk itu, ekonomi perlu kita perkuat agar TNI tidak menerbangkan pesawat setua itu dan agar tidak jatuh,” ujar Wapres dalam acara Partai Golkar di Jakarta, Minggu (29/6).
    Proses evakuasi semua jenazah korban jatuhnya pesawat CASA 212 TNI AU di Tegal Lilin, Gunung Malang, Tenjojaya, Kabupaten Bogor, itu berjalan lancar. Semua jenazah diterbangkan ke Lanud Halim Perdanakusuma dan selanjutnya dikirim ke daerah masing-masing, Minggu.
    Sebanyak 12 jenazah anggota TNI AU dibawa pulang menggunakan empat pesawat Hercules dan satu pesawat CN-235. Dari 6 jenazah warga sipil, setelah diidentifikasi di Rumah Sakit Pusat TNI AU Halim Perdanakusuma, 3 orang (Gatot Purnomo, Phadillah Putera Sinaga, dan Amy Muharam) dikembalikan kepada keluarga masing-masing. Adapun 3 warga asing, yakni Kwong Ping Anthony Kwok (warga negara Inggris), Tan Hong King (Singapura), dan Mahendra (India), sudah diserahkan melalui perwakilan kedutaan besar masing-masing.

2. Parpol Pragmatis dan Oportunis : Hegemoni dalam Jabatan Publik Pengaruhi Kemunculan yang Baru

    Jakarta, Kompas – Ideologi dan cita-cita yang semestinya diusung partai politik kian luntur. Sebagai gantinya, parpol justru sangat pragmatis dan oportunis. Akibatnya, yang muncul saat ini adalah petualang, yang menjadikan partai sebagai kendaraan dan dagangan.
    Demikian kritik pengamat politik, J Kristiadi, menanggapi buruknya fakta yang ditemui dalam proses verifikasi faktual parpol di daerah. ”Parpol yang ikut pemilu, kan, untung-untungan saja. Kalau lolos syukur, enggak lolos, ya sudah,” katanya, Minggu (29/6).
    Sesuai jadwal, verifikasi faktual yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) berakhir Minggu. Namun, anggota KPU Jawa Timur, Didik Prasetyono, misalnya, Minggu, mengatakan, verifikasi parpol tidak bisa memenuhi jadwal yang ditentukan sebab KPU terlambat mengirim berkas.
    Sebanyak 16 parpol yang memperoleh kursi di DPR langsung bisa mengikuti pemilu, sedangkan 35 parpol yang dinyatakan lolos tahap verifikasi administrasi saat ini sedang diverifikasi faktual. Di beberapa daerah, sejumlah parpol dinyatakan tidak lolos verifikasi faktual. Penyebabnya beragam, antara lain tidak memiliki pengurus dan tidak memiliki kantor di daerah tersebut.

3. Pansus Studi Banding

    Jakarta, Kompas – Setelah ke Argentina, Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden atau Pansus RUU Pilpres diam-diam akan studi banding lagi. Kali ini negara yang dipilih adalah Rusia.
    Rencana ini tertulis dalam dokumen berjudul Daftar Kunjungan Delegasi DPR ke Luar Negeri tertanggal 25 Juni 2008. Dalam dokumen itu tertulis Pansus RUU Pilpres sebagai salah satu delegasi yang akan melakukan kunjungan. Negara tujuan adalah Rusia dan Hongaria. Tanggal keberangkatan 29 Juni-5 Juli 2008.
    Wakil Ketua Pansus RUU Pilpres Andi Yuliani Paris dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Minggu (29/6) di Jakarta, membenarkan rencana itu. ”Memang ada rencana ke Rusia. Tidak tahu yang ke Hongaria,” ucapnya.
    Semula studi banding direncanakan ke Paris. Namun, karena tidak bisa dilaksanakan, studi banding dipindahkan ke Rusia. Tujuan studi banding itu, salah satunya, untuk mempelajari sistem pemilihan elektronis.

4. Menteri PU Desak Percepatan Jalan Tol

    Jakarta, Kompas – Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meminta percepatan pembangunan Jalan Tol TransJawa, terutama pada sektor tengah. Di sektor itu, PT Jasa Marga Tbk mempunyai kewajiban untuk membangun ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 75 kilometer.
    ”Untuk bagian barat dan timur dari Tol Trans-Jawa, pembebasan lahannya terus berlangsung,” kata Djoko, Minggu (29/6) di Jakarta.
    Menurut Djoko, jalan tol Semarang-Solo harus dikerjakan cepat karena telah terbangun Jalan Tol Semarang Kota. Jalan tol itu juga akan menghubungkan Jalan Tol Trans-Jawa di bagian timur dan barat.
    Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga Okke Merlina mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan proses tender konstruksi. ”Kami mendorong pemda lebih cepat membebaskan lahan sehingga pekerjaan konstruksi dapat dimulai 2009,” kata Okke.

5. 100 tahun Kebangkitan Nasional : Membangun Bangsa yang Humanis

    B Josie Susilo Hardianto
    Sjahrir dalam pidato di radio, ketika memperingati hari ulang tahun pertama Republik Indonesia, mengatakan, ”Perjuangan kita sekarang ini bagaimana juga aneh rupanya kadang-kadang, tidak lain dari perjuangan kita untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita.
    Oleh karena itu, kita sebagai bangsa yang percaya kepada kehidupan, percaya kepada kemanusiaan, berpengharapan kepada tempo yang akan datang. Kita telah belajar menggunakan alat-alat kekuasaan, akan tetapi kita tidak berdewa atau bersumpah pada kekuasaan.
    Kita percaya pada tempo yang akan datang untuk kemanusiaan, di mana tiada kekuasaan lagi yang menyempitkan kehidupan manusia, tiada lagi perang, tiada lagi keperluan untuk bermusuh-musuhan antara sesama manusia. Sebagai bangsa yang balik muda kita mencari tenaga kita sebagai bangsa di dalam cita-cita yang tinggi dan murni. Kita tidak percaya pada mungkin dan baiknya hidup yang didorong oleh kehausan pada kekuasaan semata-mata….”

6. Buku Elektronik : Daerah Kesulitan Mengakses Internet

    Jakarta, Kompas – Ketiadaan jaringan internet menyulitkan sekolah-sekolah di daerah, terutama di luar Jawa, untuk mengakses buku elektronik atau BSE di http://bse.depdiknas.go.id, http://www.depdiknas.go.id, http://www.pusbuk.or.id, dan http://www.sibi.or.id. Di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, misalnya, internet hanya dapat diakses di sekitar Muara Teweh yang merupakan ibu kota kabupaten tersebut.
    Warga pedalaman pun kesulitan kalau harus mendatangi warnet terdekat karena jarak sekolah pedalaman di Barito Utara—misalnya di Lampeyong dan Berangin, Kecamatan Teweh Timur—dengan Muara Teweh mencapai 125 kilometer.
    ”Tanpa ada bantuan pengadaan komputer yang tersambung jaringan internet, kami belum bisa memperkirakan kapan siswa dan guru di pedalaman bisa mengakses buku lewat internet ini,” kata Kepala Dinas Pendidikan Barito Utara Masdulhaq, Sabtu (28/6).

7. ANALISIS EKONOMI : Wajah Baru “Pedagang” Minyak

    RHENALD KASALI
    Kalau kami produksi minyak lebih banyak lagi, tidak ada yang membeli,” kata Raja Abdullah saat menutup KTT produsen-konsumen minyak. Semua pemimpin dunia pusing mencari solusi menahan laju harga. Kaya minyak, kok, tak berdaya? Di sini, selain disambut amarah rakyat, pemerintah juga disambut ”hak angket”. Sementara itu, yang tak punya minyak menari-nari dengan perdagangan dan spekulasi.
    Ketidakberdayaan ini tak dapat diatasi dengan kecurigaan dan bermabuk wacana, apalagi dengan jalan pintas. Banyak hal telah berubah dan kita harus berlari lebih kencang lagi. Namun, ada yang sudah berubah, tetapi miskin pengakuan sehingga memicu frustrasi.