Headline Republika hari ini sangat menarik yaitu menyoroti politikus Belanda yang kontroversial karena membuat film penghinaan agama Islam, Fitna, yang menjadi supporter tim Belanda. Berita utama lainnya adalah mengenai kelanjutkan penangkapan Muchdi Pr serta kekalahan Golkar di Pilkada Jateng.

1. Geert Wilders? Pemain Mana Dia?

    Geert Wilders begitu kontroversi dan terkenal di kalangan sebagian umat Islam di dunia. Filmnya yang berjudul Fitna, telah memicu gelombang protes keras dan demonstrasi di banyak negara, termasuk di Belanda. Ia tiba-tiba muncul sebagai sumber berita utama yang diburu media-media papan atas di Eropa dan Amerika.
    Boleh saja Wilders mendadak menjulang bak selebriti yang baru saja memenangkan penghargaan besar. Namanya boleh menggema di mana-mana, seolah semua orang kenal dia. Tapi, di mata sebagian suporter Belanda, Wilders bukanlah siapa-siapa. Malah, banyak yang tidak kenal politisi yang kental dengan warna anti-Islamnya itu.

2. Polri Segera Limpahkan Berkas Muchdi : Kejakgung tunjuk dua jaksa bantu penyidik Polri.

    Mabes Polri akan segera melimpahkan berkas pemeriksaan mantan deputi V Badan Intelijen Negara (BIN), Mayjen (Purn) Muchdi Purwopranjono, kepada Kejaksaan Agung (Kejakgung). Pelimpahan berkas tersangka pembunuh aktivis HAM, Munir, itu dilakukan setelah pemeriksaan oleh polisi selesai.
    ”Setelah pemeriksaan sebagai tersangka selesai, langsung dilimpahkan ke Kejaksaan Agung,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Abubakar Nataprawira, Senin (23/6). Penyidik, ungkapnya, telah menyelesaikan pemeriksaan terhadap saksi, saksi ahli, dan barang bukti lain sebelum Muchdi ditahan pada Kamis (19/6). Mantan danjen Kopassus ini, kata Abubakar, menjalani pemeriksaan sebagai tersangka sejak ditahan. Apa hasil pemeriksaan itu masih dipelajari penyidik.

3. Partai Golkar Terkesan Lemah

    Kekalahan beruntun calon yang diusung Partai Golkar dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) membuat Golkar terlihat lemah. Bila tak ada perbaikan, Golkar dinilai akan menghadapi masalah serius dalam Pemilu 2009.
    Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP Golkar, Hajriyanto Y Thohari, mengakui kekalahan beruntun itu bisa memunculkan efek psikologis yang berat. ”Berupa hilangnya rasa percaya diri,” katanya, kemarin. Direktur Indo Barometer, Muhammad Qodari, menyatakan kekalahan beruntun itu memunculkan kesan seolah-olah Golkar lemah. Hal itu membuat pertentangan antarfaksi di Golkar akan kencang. ”Bagi faksi-faksi yang kurang sependapat dengan kepemimpinan Jusuf Kalla, itu menjadi amunisi baru buat mereka,” katanya.